Beban Pengawas Berat
Orientasi Masih Administrasi
Banyaknya jumlah sekolah yang harus diawasi membuat beban pengawas sekolah terlalu berat. Situasi tersebut menyebabkan program pengarahan dan pembinaan untuk meningkatkan mutu pendidikan menjadi tidak optimal. Pengawas sekolah juga dianggap masih sebatas mengawasi administrasi di sekolah.
Di Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, misalnya, pengawas sekolah tingkat dasar bekerja dobel karena harus mengawasi taman kanak-kanak. Di kecamatan itu, masing-masing pengawas harus memantau 17-20 sekolah. "Saat ini, beban kami terlalu berat karena harus mengawasi dua satuan pendidikan sekaligus," kata Wahyudi (58), pengawas sekolah SD dan TK, Senin (10/8) di Jakarta, seusai meninjau SDN 01 Kebon Jeruk.
Dia mendapat beban mengawasi 10 SD dan 7 TK. Setiap hari, ia dapat memantau 2-3 sekolah yang letaknya berdekatan. Namun, jika kepala sekolah atau guru membutuhkan pengarahan mendalam, Wahyudi memantau satu sekolah per hari. Padahal, selama satu bulan (26 hari kerja), ia harus melakukan 54 kunjungan sekolah. "Akibatnya, ada beberapa sekolah yang tidak terpantau dengan baik," katanya. Ia juga meninjau kelas dan lingkungan, seperti lapangan olahraga, kantin, dan gudang.
Koordinator Pengawas Sekolah Tingkat Menengah Atas (SMA) di Wilayah 1 Jakarta Pusat Harlen Butarbutar menuturkan, ada tiga pengawas SMA yang bertugas di empat kecamatan. Padahal, ada 34 SMA negeri dan swasta di Kecamatan Sawah Besar, Gambir, Tanah Abang, dan Menteng yang harus diawasi. "Setiap pengawas mendapat beban meninjau 10-12 SMA," ujar Harlen.
Kepala sekolah dan guru, kata Harlen, tidak kesulitan merencanakan dan menjalankan program pendidikan. Namun, sebagian guru masih kesulitan meningkatkan minat belajar siswa. Kepala sekolah juga perlu bimbingan intensif dalam membuat program tahunan, seperti perencanaan lokakarya untuk guru.
Administrasi
Ketua Umum Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia Cucu Saputra mengatakan, peran pengawas selama ini, di sekolah lebih banyak berorientasi pada hal-hal yang berkaitan administrasi guru, tidak pada substansi pengembangan dan inovasi pembelajaran. Bahkan, cenderung menjadi perpanjangan tangan kebijakan nasional di bidang kurikulum yang ujungnya bersifat administratif.
Menurut Cucu, pengawas seharusnya membimbing sekolah guna mempercepat pencapaian standar nasional pendidikan. Pengawas juga mendorong sekolah mengedepankan manajemen sekolah yang transparan dan akuntabel. (B03/B08/ELN)
SOLUSINYA PAKE TEKNOLOGI DIGITALKOMPAS, 11 AGUSTUS 2015

